Assalamu alaikum. Mau tanya,
kebanyakan di jawa kalo pas doa qunut pas bacaan fainnaka taqdhi walaa yuqho, imamnya
membaca dg lirih . Apa ada refrensinya?
Jawab:
Wa
‘alaikum salam.
Sebelum
saya menjawab pertanyaan, ada baiknya jika terlebih dahulu kita pahami masalah
qunut. Semua ulama sepakat bahwa qunut hukumnya sunah. perbedaannya hanya pada waktu
dan letak qunut. Dalam madzhab Syafi’I qunut ada dua macam. Qunut dalam sholat
shubuh dan qunut nazilah (qunut sebab ada bencana). Sementara letak pembacaan qunut
adalah setelah I’tidal sebelum ruku’.
Subtansi
doa qunut adalah doa, tsana’ (pujian) dan sholawat. Yang dimaksud doa disini adalah
bacaan Allohummadini sampai lafazh wa qiny syarro ma qodhoit. Yang dimaksud
tsana’ (pujian) adalah lafazh Fa innaka taqdhi samapai lafazh wa atubu ilaik.
Yang dimaksud sholawat adalah bacaan setelah wa atubu ilaik hingga selesai.
Dalam
pelaksanaan qunut juga ada kesunahan lain, yakni membaca keras dalam sholat
jahriyah (seperti dalam sholat maghrib, isya’ dan shubuh) dan membaca lirih
dalam sholat siriyah (seperti dalam sholat zhuhur dan ashar). Dapat dipahami bahwa
membaca qunut secara keras hukumnya sunah. Maka jika di baca lirih tidaklah
mengapa.
Ketika
membahas masalah tsana (pujian) dalam qunut, Syekh Sa’id bin Muhammad dalam
kitab Busyo Karim mengatakan: disunahkan bagi ma’mum untuk membaca tsana’
(pujian) bersama imam. Jadi ketika Imam membaca Fa innaka taqdhi, ma’mum
disunahkan untuk membacanya juga.
Bagi
orang yang mengerti bahasa arab, maka ia bisa membedakan antara doa dan tsana’.
Sehingga ketika imam membaca tsana’, ia akan mengikuti bacaan itu dengan lirih.
Namun masalahnya bagaimana dengan orang yang tidak mengerti bahasa arab yang
tidak bisa membedakan anatar do’a dan tsana?
Untuk
mengatasi masalah ini, Kyai jawa tempo dulu membaca tsana’ dengan lirih.
Tujuannya agar ma’mum tahu bahwa saat itu imam sedang membaca tsana’. Dengan
begitu ma’mum bisa membaca tsana’ bersama imam. Maka ia mendapatkan kesuhan
lain dalam qunut. Apakah ini ada refrensinya?
Sebatas
pengetahuan saya, hal itu tidak ada refrensinya. Namun menurut saya, ini
merupakan solusi cerdas dari Kyai jawa agar ma’mum bisa mendapatkan kesunahan
membaca tsana’ bersama Imam. Kemudian solusi ini diikuti oleh generasi
selanjutnya. Wallohu a’lam.
0 comments:
Post a Comment
Silahkan bertanya di kolom komentar di bawah ini