Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Friday, April 5, 2013

Qul Hadzihi Sabily IV (Seputar Tasawuf)


Dua dari delapan point yang oleh wahabi dianggap sebagai pokok ajaran tasawuf telah kita jawab pada artikel yang lalu. Lihat di sini Qul Hadzihi Sabily III (Seputar Tasawuf)Pada artikel ini kita akan membahas  3 point yaitu masalah Syekh, baiat dan wirid. Pada point pertama dan ke-dua saya hanya akan menunjukan kontradiksi yang terjadi pada artkel Abu Bakar Jabir. Dengan begitu kita tidak perlu membahas subtansinya secara terperinci. Cukuplah kontradiksi yang terjadi pada pernyataan ustad wahabi itu sebagai bukti bahwa artikelnya bathil. Sebab kata ulama: “Kebatilan pasti saling kontradiksi.”

1. Syekh
Ketika membahas masalah Syekh dalam tasawuf, Abu Bakar Jabir Al Jazairi berkata: “Sesungguhnya keberadaan syaikh itu, menurut syariat bisa dibenarkan melalui Syaikh (yang memiliki ilmu dan tahu jalan menuju Alloh) itulah yang bisa diambil ilmunya dan mencontohnya. Hingga terbentuklah kesempurnaan jiwa lantaran bimbingannya dalam Islam, yang demikian ini adalah perkara yang terpuji dan dituntunkan syar’i.”

Perhatikan kalimat Hingga  terbentuklah kesempurnaan jiwa.” Kalimat ini menunjukan bahwa ia mengakui adanya kesempurnaan jiwa. Namun selanjutnya ia membantah adanya kesempurnaan. Berikut ucapan ustad wahabi itu: “Dan yang lebih mengherankan lagi dalam dunia tarekat, mensyaratkan bagi syaikh yang menjadi murabbi yang memiliki kewenangan khusus harus memiiliki sifat sempurna. Padahal yang demikian tidak mungkin dimiliki sekalipun oleh sebagian para nabi.”

Perhatikan kalimat bagi syaikh yang menjadi murabbi yang memiliki kewenangan khusus harus memiiliki sifat sempurna. Padahal yang demikian tidak mungkin dimiliki sekalipun oleh sebagian para nabi.” Kalimat ini menunjukan bahwa ia tidak mengakui adanya kesempurnaan bahkan sebagian Nabi sekalipun menurutnya tidak sempurna.

Pertama-tama ia membuat pernyataan bahwa dengan bimbingan islam jiwa seseorang akan sempurna. Dengan kata lain ia percaya ada orang yang sempurna. Namun selanjutnya ia membantah pernyataannya sendiri bahwa sifat sempurna tidak mungkin dimiliki sekalipun oleh sebagian Nabi. 

Bagaimana bisa? seorang ustad yang dianggap sebagai ulama oleh wahabi membuat pernyataan yang saling kontradiksi dalam satu sub tema yang hanya berjarak 3 paragraph? Ini merupakan kesalahan fatal yang dalam meja ilmiyah kesalahan tersebut tidak mungkin terjadi kecuali hanya pada orang bodoh. Jadi siapa yang bodoh? Ustad wahabi atau shufi?

Saya teringat satu kaidah dari Ulama, bahwa “Kebatilan pasti saling kontradiksi.” Pernyataan ustad wahabi itu saling kontradiksi. Jadi siapa yang bathil? Wahabi atau shufi?

2. Baiat

Saat membahas masalah baiat, Abu Bakar Jabir Al Jazairi, berkata: “Sesungguhnya baiat adalah sesuatu yang disyariatkan, yakni sebagaimana Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam pernah membaiat para Shohabat rodliallohu anhum. Adapun baiat yang dilakukan kepada imam adalah bid’ah.”

Perhatikan kalimat Sesungguhnya baiat adalah sesuatu yang disyariatkan” Kalimat ini menunjukan pengakuannya bahwa baiat disyari’atk-an. Telah maklum bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi, kalau tidak sunah maka wajib hukumnya untuk diikuti oleh umat islam. Namun selanjutnya ustad wahabi itu mengatakan bahwa baiat adalah bid’ah. Katanya: Adapun baiat yang dilakukan kepada imam adalah bid’ah.”

Dengan demikian menurut ustad wahabi, baiat adalah sesuatu yang disyariatkan sekaligus bid’ah. Rosululloh SAW dan Sahabat pernah melakukan baiat, namun jika ada umat islam yang mengikuti jejak itu -menurut ustad wahabi- mereka telah melakukan bid’ah. Bagaimana bisa satu permasalahan memiliki dua penilaian? Apakah syariat itu bid’ah ataukah bid’ah itu syari’at? Jawab wahai wahabiyun!!!!

3. Wirid

Al-hamdulillah, Abu Bakar Jabir Al Jazairi mengakui bahwa dzikir yang dibaca ahli thoriqoh dan tasawuf ada yang disyari’atkan. Namun tetap saja ia mencari celah untuk membid’ahkannya. Katanya: “Dzikir mereka ada yang haq disyariatkan Islam, seperti kalimah thayyibah la ilaha illallah mereka namakan sebagai zikir umum, dan ada pula dzikir yang tidak disyariatkan Islam, hanya karangan orang pengikut tarekat seperti lafadz alla, Allah yang diucapkan berulang kali dengan jumlah tertentu, atau melafalkan kata hayyun, hayyun dan semisalnya. Mereka namakan sebagai dzikir khusus (masing-masing tarekat memiliki dzikir khusus sendiri-sendiri) bahkan ada yang mengucapkan huwa,huwa (Dia, Dia) yang mereka namakan dzikir khusus yang paling khusus (khos Al Khos).  “Perhatikanlah !! bagaimana mereka membagikan dzikir menjadi dzikir umum, dizikir khusus dan dzikir paling khusus. Kita berlindung kepada Alloh Azza wa Jalla kadi kesesatan nyata dan kita berlepas diri dari kebohongan yang jelas.”

Pada sub ini saya akan membagi pembahasan menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah  masalah pembagian zikir. Sementara bagian ke dua adalah masalah lafazh zikir seperti Huwa, Alloh dan Hayyu. Namun bagian yang ke-dua akan saya tulis pada artikel selanjutnya, insya Alloh. Dalam artikel ini saya hanya akan membahas bagian pertama, yaitu masalah pembagian zikir.

Menurut ustad wahabi, pembagian zikir menjadi tiga termasuk kesesatan tanpa memberitahu mengapa pembagian itu disebut sesat? Apakah karena Rosululloh SAW tidak pernah membagi zikir menjadi tiga? Jika memang ini alasannya, maka konsekwensi logisnya adalah wahabi juga sesat. Sebab mereka membagi tauhid menjadi tiga yang mana pembagian ini tidak pernah diajarkan oleh Nabi SAW. Bukankah begitu wahai wahabiyun?

Biasanya ustad wahabi akan mengelak dan berkata begini; “Anda salah. Pembagian tauhid menjadi tiga hanya merupakan penjelasan. Jadi itu bukan bid’ah.”
Jika demikian maka saya katakan: “Pembagian dzikir menjadi tiga juga hanya merupakan penjelasan. Jadi itu bukan bid’ah.”

Dalam pikiran wahabi, segala sesuatu harus ada contohnya dari Nabi SAW. Jika tidak ada contohnya berarti bid’ah. Nabi SAW pernah melakukan baiat, seperti saat baiat aqobah dan baiat ridwan. Lalu mengapa ketika ahli thoriqoh melakukan baiat kalian sebut sebagai bid’ah padahal Nabi SAW mencontohkannya? Jawab wahai wahabiyun!!!

Thursday, April 4, 2013

Qul Hadzihi Sabily III (Seputar Tasawuf)


Tiga artikel berjudul Mafahim Yang Harus Di LuruskanQul Hadzihi Sabily (Seputar Tasawuf), dan Qul Hadzihi Sabily II (Seputar Tasawuf) ternyata membuat wahabi kebakaran jenggot. Pasalnya tiga artikel tersebut membongkar kebohongan wahabi dan fitnah mereka terhadap madzhab Asy’ari dan tasawuf. Al-Hamdulillah tidak ada satu pun penulis wahabi yang mampu menanggapi artikel tersebut.

Para pengikut wahabi hanya mencak-mencak sambil berteriak bahwa madzhab asy’ari bid’ah-lah, tasawuf sesat-lah dan tetek bengek ocehan lainnya yang sama sekali tidak ilmiyah. Bisa jadi wahabi telah kehabisan ilmu. Dan karena sudah kadung menyalahkan maka mereka berusaha bertahan pada posisi mereka yang salah. Dari sini kita semua bisa menilai siapa wahabi? Bahwa mereka adalah grombolan orang fanatic yang gemar menyalahkan orang lain yang tidak sejalan dengan mereka.

Dalam artikel berjudul “Qul Hadzihi Sabily II (Seputar Tasawuf)” saya berjanji akan membahas delapan point yang oleh wahabi dianggap sebagai pokok ajaran tasawuf. Setelah saya cek dengan cara merujuk ke kitab tasawuf secara langsung, ternyata 8 point itu bukan pokok ajaran tasawuf. Melainkan hanya istilah yang digunakan oleh ahli shufi. Untuk lebih jelasnya silahkan baca di http://goleksurgo.blogspot.com/2013/04/qul-hadzihi-sabily-ii-seputar-tasawuf_395.html 

Delapan point yang dianggap sebagai pokok ajaran tasawuf oleh wahabi adalah Thoriqot, Syekh pemberi wirid, Baiat, Wirid, Kholwah, Kasyaf, Fana’ dan Zhohir dan Batin atau Syariat dan Hakikat. Pada artikel ini kita akan membahas 2 point yaitu masalah thoriqoh dan hakikat.

Ketika membahas masalah thoriqot, Abu Bakar Jabir Al Jazairi-ustad wahabi-, berkata: “Thoriqot adalah hubungan murid (seseorang yang berkehendak untuk sampai kepada Alloh dengan jalan dzikir dan memelihara dzikir tersebut) dengan syaikh (guru)nya. Baik Syaikh tersebut masih hidup maupun mati. Caranya, dzikir waktu pagi dan petang hari sesuai dengan izin sang Syaikh-nya tersebut.”

Tanggapan:
Yang anda anggap sebagai thoriqot itu bukan thoriqot, melainkan sanad atau mata rantai yang menghubungkan antara murid dan guru. Sedangkan thoriqot dalam tasawuf adalah jalan menuju Alloh sebagaimana yang akan saya jelaskan nanti, insya Alloh.

Ketika membahas masalah hakikat ustad wahabi itu berkata: Diantara kebid’ahan sufi yakni adanya pembagian ilmu menjadi zhahir dan batin, dan pembagian agama menjadi syari’at dan hakekat. Mereka menisbatkan bahwa Islam adalah tarekat (jalan,cara), Sedangkan tarekat hanyalah washilah (sarana), dan buahnya adalah hakekat. Inilah kesesatan Sufi mereka membagi-bagi Islam sesuai hawa nafsu mereka diatas kebodohan.”  

 Tanggapan:
Syekh Hisyam Al-Kabbani berkata: “Apapun yang tidak dipahami oleh manusia adalah ilmu bathin, tetapi bagi seseorang yang mengetahuinya, hal itu tidak tersembunyi dan gamblang. Ilmu bathin tidak bisa dipahami oleh kebanyakan orang, tetapi bagi kami (Shufi) ilmu itu adalah sebuah realitas. Seseorang mungkin berfikir bahwa ada dua jenis ilmu tetapi sebenarnya tidak ada perbedaan antara ilmu lahir dan ilmu bathin. Itu hanyalah persoalan pemahaman.”1

Jadi sebenarnya shufi tidak membagi ilmu menjadi dua. Akan tetapi karena tingkat pemahaman manusia berbeda, ada yang faham dan ada yang tidak, maka seolah-olah ilmu ada dua. Sesuatu yang tidak dipahami oleh kebanyakan orang, dalam sufi disebut sebagai ilmu bathin. Sedangkan ilmu yang dipahami oleh kebanyakan manusia disebut sebagai ilmu zhohir.

Pembagian itu bukan hal yang bid’ah. Sejak zaman sahabat, pembagian ini telah ada sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Huroiroh.
حفظت من رسول الله صلى الله عليه وسلم وعاءين فأما أحدهما فبثثته وأما الأخر فلو بثثته قطع هذا البلعوم
“Aku mengingat dua jenis ilmu dari Nabi SAW. Salah satunya telah ku ajarkan sedangkan yang lainnya, jika aku sebarkan pasti tenggorokanku akan dipotong.”2

Ilmu apa yang disimpan oleh abu Huroiroh? Banyak hal dalam al-Qur’an yang tidak dipahami sepenuhnya hingga saat ini. Bahkan ilmuwan modern mengatakan bahwa dalam al-qur’an mengandung banyak rahasia, dan rahasia tersebut merupakan salah satu aspek kemukjizatan al-Qur’an.

Rahasia-rahasia inilah yang dalam tasawuf disebut sebagai ilmu bathin. Jika kerahasiaan itu telah dipahami oleh manusia maka ia tidak lagi disebut sebagai ilmu bathin. Melainkan ilmu zhohir. Jadi sebenarnya ini hanya persoalan pemahaman. Wahabi tidak mampu memahami ucapan Abu Huroiroh Ra dan ucapan shufi, sehingga wahabi mengatakan pembagian itu adalah bid’ah.

Kita kembali ke masalah thoriqot. Abu Bakar Jabir Al Jazairi-ustad wahabi-, berkata: “Thoriqot adalah hubungan murid dengan guru.” Bagaimana bisa ustad wahabi memaknai thoriqot sebagai hubungan murid dengan guru? Silahkan anda buka seluruh kamus bahasa arab, Mu’jam Al-Wasith, Mu’jam Alfazhil qur’an atau kamus apa saja. Adakah yang memaknai thoriqoh adalah hubungan murid dengan guru? Sebelum anda membuka seluruh kamus maka saya pastikan bahwa makna seperti itu tidak disebutkan dalam kamus apapun kecuali dalam kamus hayalan ustad wahabi.

Thoriqoh adalah mu’anats dari kata Thoriq. Ia merupakan murodif atau sinonim kata sabil dan manhaj. Dalam kitab Mu’jam, thoriq dimaknai sebagai sabil.3 Demikian juga kata manhaj. Dalam kitab itu dimaknai sebagai sabil.4 Jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia maka artinya adalah jalan atau metode.5

Ketika wahabi mengaku sebagai pengikut manhaj salaf, ini sama artinya mereka adalah pengikut thoriqoh salaf. Sebab manhaj dan thoriqoh adalah sinonim. Anehnya ketika ada orang diluar wahabi menggunakan kata thoriqoh, wahabi langsung mengklaim bahwa mereka bid’ah dan sesat. Padahal manhaj dan thoriqoh memiliki arti yang sama yaitu jalan atau metode. Dari sini dapat kita ketahui bahwa wahabi tidak paham bahasa arab. Wahabi tidak tahu tentang murodif atau sinonim kata arab. Di SD ketidak tahuan semacam ini disebut bodoh. Siapa yang bodoh? Ustad wahabi atau shufi?

Dalam ajaran tasawuf dikenal tiga istilah, yaitu syari’at, thoriqot dan hakikat. Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab “Muroqil Ubudiyah” menjelaskan arti ketiga istilah itu dengan menukil ucapan Syekh Showi, penulis kitab Showi Syarah Tafsir Jalalain. Kata beliau: “Syariat adalah hukum-hukum dari Alloh yang dibebankan kepada kita oleh Rosululloh SAW mencangkup hukum wajib, sunah, haram, makruh dan mubah. Thoriqoh adalah mengamalkan hukum wajib dan sunah serta menjauhi yang haram dan makruh. Hakikat adalah kepahaman terhadap hakikat sesuatu.”6

Kepahaman terhadap hakikat sesuatu merupakan ilmu yang diberikan oleh Alloh setelah mengamalkan syariat, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Anfal: 29.
إن تتقوا الله يجعل لكم فرقانا
“….. jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqonan….”

Seseorang yang bertaqwa pasti akan melaksanakan perintah Alloh. Pelaksanaan ini dalam tasawuf disebut sebagai thoriqoh. Jika ia melaksanakan perintah itu maka Alloh akan memberinya فرقانا yang artinya -sebagaimana yang termaktub dalam Tafsir Ibn Katsir- adalah jalan keluar, keselamatan, pertolongan dan pemisah antara hak dan bathil.7

Pengertian-pengertian tersebut dalam tasawuf disebut dengan kepahaman yang diberikan oleh Alloh kedalam hati yang pada gilirannya mereka sebut ilmu hakikat. Kepahaman ini sesuai dengan firman Alloh Al-Baqoroh: 282
واتقوا الله ويعلمكم الله
“….Dan bertakwalah kepada Allah; dan Allah akan mengajarmu…”
Hal senada juga di jelaskan dalam surat Al-Baqoroh: 239, 151 dan An-Nisa: 113. 

Oleh karena itu Imam Malik berkata:
 من عمل بما علم ورثه الله علم ما لم يعلم
“Barang siapa melaksanakan apa yang ia ketahui maka Alloh akan memberinya ilmu yang tidak ia ketahui.” Kalimat علم (Pengetahuan) dalam tasawuf disebut syari’at. Kalimat عمل (Pengamalan) dalam tasawuf disebut thoriqot. Kalimat ورثه الله علم ما لم يعلم dalam tasawuf disebut hakikat.8

Mungkin ada ustad wahabi yang bilang: “Jika memang thoriqoh adalah mengamalkan hukum syari’at mencangkup hal yang wajib dan sunah serta menjauhi hal yang haram, lalu mengapa di Indonesia tersebar thoriqoh-thoriqoh yang hanya mengamalkan wirid atau dzikir seperti thoriqoh naqsabandiyah, thoriqoh alawiyah, thoriqoh tijaniyah dan lain-lain? Mengapa mereka mengamalkan itu? Tidak cukupkah amalan-amalan wajib atau sunah seperti sholat dan puasa?”

Jika benar ada Ustad atau ulama wahabi yang bicara seperti itu, maka saya katakana: “Pak! silahkan anda belajar islam dulu. Jangan jadi ustad atau ulama premature yang memaksakan diri menjadi ustad atau ulama sebelum waktunya.”

Ketahuilah bahwa yang disebut thoriqoh tidak hanya membaca wirid atau dzikir naqsabandiyah atau alawiyah. Lebih dari itu mengamalkan setiap perintah juga dapat disebut sebagai thoriqoh. Seseorang yang menekuni sholat tahajud berarti dia menekuni thoriqoh sholat. Seseorang yang menekuni puasa senin dan kamis berarti dia menekuni thoriqoh puasa.

Dzikir atau wirid adalah printah Al-Quran. Ada banyak sekali ayat yang memerintah kita untuk berdzikir. Seperti Al-Anfal: 45;
واذكروا الله ذكرا كثيرا لعلكم تفلحون
“… berdzikirlah kepada Alloh dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.”

Kalimat واذكروا adalah fi’il amar (kata perintah). Menurut ulama ushul fiqh kalimat perintah menunjukan hukum wajib kecuali jika ada qorinah atau indikasi bahwa itu sunah. Maka hukumnya disesuaikan dengan qorinah tersebut. Atau jika perintah tersebut terjadi setelah nahi (Larangan) maka hukumnya adalah mubah.

Dengan demikian hukum dzikir adalah sunah kalau tidak boleh dikatakan wajib. Orang yang menekuni dzikir berarti dia menekuni thoriqoh dzikir. Jika ia membaca dzikir sesuai dengan dzikir yang dibaca oleh Syekh Naqsabandi maka ia disebut pengikut thoriqoh Naqsabandiyah. Jika ia menekuni dzikir yang dibaca oleh alawiyin maka ia disebut pengikut thoriqoh alawiyah. Jika wahabi menekuni dzikir yang dibaca Ibn Taimiyah –misalnya-, maka mereka disebut sebagai pengikut thoriqoh Taimiyah.

Jika ada ustad wahabi yang bilang bahwa nama thoriqoh naqsabandiyah atau alawiyah adalah bid’ah dan setiap bid’ah sesat. Setiap kesesatan berada di neraka. 

Maka saya katakan kepada mereka: “Gelar ustad yang anda sandang juga bid’ah. Gelar hajji yang anda sandang juga bid’ah. Sebab Nabi dan Sahabat tidak menggunakan gelar-gelar tersebut. Tidak ada yang menyebut Nabi Muhammad dengan gelar ustad Muhammad. Tidak ada yang memanggil beliau dengan sebutan Hajji Muhammad. Ustad wahabi memakai dua gelar bid’ah tersebut. Sebagai contoh Ustad Firanda dan Hajji Mahrus Ali. Apakah kalian sebut keduanya sebagai pelaku bid’ah? Apakah keduanya sesat? apakah keduanya masuk neraka? Jawab wahai wahabiyun!!!”



Refrensi:
1.      Kiamat Mendekat, Edisi terjemahan, hlm 101.
2.      HR. Bukhori 1:121
3.      Mu’jam Mufrodati Alfazhil Quran, hlm. 339
4.      ibid. 562
5.      Kamus Munawir, hlm. 1468
6.      Muroqil Ubudiyah, hlm. 4
7.      Tafsir Ibn Katsir Juz 2 hlm 275
8.      Muroqil Ubudiyah, hlm. 5



Wednesday, April 3, 2013

Imam Mahdi


Gan...prtnyaan ane tentang imam mahdi blm d jawab, di tunggu ya...


Jawaban:
Berbicara soal Imam Mahdi, dalam hal ini manusia terbagi menjadi dua golongan. Ada yang percaya dan ada yang tidak. Ahlu sunah waljama’ah adalah golongan yang mempercayai adanya Imam Mahdi. Banyak sekali hadits yang membahas masalah ini. Di antaranya adalah sebagai berikut:

[1]. Dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Pada masa akhir umatku akan muncul Al-Mahdi. Pada waktu itu Allah me-nurunkan banyak hujan, bumi menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan banyak harta (penghasilan), banyak ternak, umat menjadi mulia, dan dia hidup selama tujuh atau delapan tahun." [Mustadrak Al-Hakim 4: 557-558, dan ia berkata, "Ini adalah hadits yang shahih isnadnya, tetapi Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya." Dan Adz-Dzahabi menyetujui pendapat Al-Hakim ini.

[2]. Juga diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Aku sampaikan kabar gembira kepada kalian dengan datangnya Al-Mahdi yang akan diutus (ke tengah-tengah manusia) ketika manusia sedang dilanda perselisihan dan kegoncangan-kegoncangan, dia akan memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnnya bumi dipenuhi dengan penganiayaan dan kezhaliman. Seluruh penduduk langit dan bumi menyukainya, dan dia akan membagi-bagikan kekayaan secara tepat (merata)." Lalu ada seseorang yang bertanya kepada beliau, "Apakah yang dimaksud dengan shihah (tepat) ?" Beliau menjawab, "Merata di antara manusia."
Dan selanjutnya beliau bersabda, "Dan Allah akan memenuhi hati umat Muhammad saw dengan kekayaan (kepuasan), dan meratakan keadilan kepada mereka seraya memerintahkan seorang penyeru untuk menyerukan: 'Siapakah yang membutuhkan harta? Maka tidak ada seorang pun yang berdiri kecuali satu, lalu Al-Mahdi berkata, "Datanglah kepada bendahara dan katakan kepadanya, 'Sesungguhnya Al-Mahdi menyuruhmu memberi uang. 'Kemudian bendahara berkata, 'Ambillah sedikit'' Sehingga setelah dibawanya ke kamarnya, dia menyesal seraya berkata, 'Saya adalah umat Muhammad yang hatinya paling rakus. atau saya tidak mampu mencapai apa yang mereka capai' Lalu ia mengembalikan uang (harta) tersebut, tetapi ditolak seraya dikatakan kepadanya,

Kami tidak mengambil kembali apa yang telah kami berikan.' Begitulah kondisinya waktu itu yang berlangsung selama tujuh, delapan, atau sembilan tahun. Kemudian tidak ada kebaikan lagi dalam kehidupan sesudah itu. " [Musnad Ahmad 3: 37. Al-Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan lainnya secara ringkas, dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan berbagai sanad, juga diriwayatkan oleh Abu Ya'la dengan ringkas dan perawi-perawinya terpecaya.". Majma'uz Zawaid 7: 313:314.

[3]. Dari Ali Radhiyallahu 'anhu. ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Al-Mahdi itu dari golongan kami, ahli bait. Allah memperbaikinya dalam satu malam. " [Musnad Ahmad 2: 58 hadits nomor 645 dengan tahqiq Ahmad Syakir yang mengatakan. "Isnadnya shahih." Dan Sunan Ibnu Majah 2:1367.


[4]. Dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Al-Mahdi itu dari keturunanku, lebar dahinya dan mancung hidungnya. la memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi dengan kezhaliman dan penganiayaan.. la berkuasa selama tujuh tahun." [Sunan Abu Daud, Kitab Al-Mahdi 11: 375 hadits nomor 4265. Mustadrak Al-Hakim 4: 557 dan dia berkata, "Ini adalah hadits shahih menurut syarat Muslim, tetapi beliau berdua (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya." 

Adz-Dzahabi berkata. "lmran, salah seorang perawinya, adalah dha'if dan Muslim tidak meriwayatkan haditsnya." Dan mengenai sanad Abi Daud, Al-Mundziri berkata, "Di dalam sanadnya terdapat Imran Al-Qaththan, yaitu Abul 'Awwam Imran bin Dawur Al-Qaththan Al-Bishri, Al-Bukhari menjadikan haditsnya sebagai syahid. dan dia dianggap kepercayaan oleh Affan bin Muslim dan Yahya bin Sa'id Al-Qaththan memujinya dengan baik. 

Tetapi dia dilemahkan oleh Yahya bin Ma'in dan Nasa'i." (Aunul Ma'bud 11: 37). Adz-Dzahabi berkata dalam Mizanul I'tidal, "Ahmad berkata, 'Saya berharap dia itu baik haditsnya.' Abu Daud berkata, 'Dha'if.' (mizanul I'tidal 3: 26). Ibnu Hajar berkata mengenai Imran, "Dia itu jujur tetapi tertuduh berfaham Khawarij. " (Taqribut-Tahdzib 2: 83). Dan Ibnul Qayyim mengomentari sanadnya Abu Daud demikian. "Jayyid (bagus).

[5]. Dari Ummu Salamah Radhiyallahu 'anha, ia berkata : saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Al -Mahdi itu keturunanku, dari anak cucu Fatimah." [Sunan Abi Daud : 373; Sunan Ibnu Majah 2: 1368.

[6]. Dari Jabir Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Isa bin Maryam akan turun, lalu pemimpin mereka, Al-Mahdi, berkata. 'Marilah shalat bersama kami! 'Isa menjawab, Tidak! Sesungguhnya sebagian mereka menjadi amir (pemimpin) bagi sebagian yang lain sebagai penghormatan dari Allah kepada umat ini. '" [Hadits Riwayat Al-Harits bin Abu Usamah dalam musnadnya seperti disebutkan dalam Al-Manarul Munif karya Ibnul Qayyim halaman 147-148, dan diriwayatkan dalam kitab Al-Hawi fi Al-Fatawa karya As-Suyuthi 2: 64. Ibnul Qayyim berkata, "Hadits ini isnadnya jayyid (bagus). "

[7]. Dari Abi Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Dari antara keturunan kami akan ada orang yang Isa Ibnu Maryam melakukan shalat di belakangnya. " [Riwayat Abu Nu'aim dalam Akhbaril Mahdi sebagaimana dikatakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Hawi 2: 64, dan dia memberi tanda dha'if, demikian pula Al-Munawi dalam Faidhul Qadir 6: 17.

[8]. Dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu. ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidaklah dunia akan lenyap sehingga negeri Arab dikuasai oleh seorang laki-laki dari ahli baitku (keluarga rumahku) yang namanya sama dengan namaku.'' [Musnad Ahmad 5: 199 hadits nomor 3573 dengan tahqiq Ahmad Syakir, dia berkata,".Isnadnya shahih." Dan Tirmidzi 6:485, dan dia berkata, "Ini adalah hadist hasan shahih. '' Dan Sunan Abu Daud 11: 371]

Dan dalam riwayat disebutkan dengan lafal: "Namanya sama dengan namaku dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku. " [Sunan Abi Daud 11: 370.

Qul Hadzihi Sabily II (Seputar Tasawuf)


Saya bukan ahli tasawuf. Namun setelah saya membaca artikel berjudul “Beberapa Pokok Kesesatan Ajaran Sufi”  yang ditulis oleh ustad wahabi bernama Abu Bakar Jabir Al Jazairi kemudian artikel tersebut disebarluaskan oleh para pengikut wahabi yang hobi membid’ahkan dan menyesatkan golongan yang tidak sejalan dengan mereka, (setelah membaca artikel itu) saya terobsesi untuk merujuk ke kitab sufi secara langsung. Saya tidak mau menjadi orang bodoh yang menerima mentah-mentah setiap artikel yang saya baca. Apalagi jika subatansi artikel itu menebarkan kebencian. Saya tidak suka ini.

Alasan mengapa wahabi begitu membenci sufi adalah karena dalam hayalan mereka ajaran sufi tidak sesuai dengan al-quran dan hadits. Mereka berhayal tentang ajaran poko sufi yang menurut mereka ada delapan point. Untuk lebih jelasnya baca di sini https://www.facebook.com/notes/umar-al-mukhtar/beberapa-pokok-kesesatan-ajaran-sufi/362657790520442  atau www.al-aisar.com. 

Saya tidak mau memusuhi sesuatu hanya karena ketidak tahuan saya terhadap sesuatu itu. Apalagi artikel itu tidak disertai refrensi yang jelas. Sehingga kita bertanya-tanya, dari mana wahabi mengetahui itu merupakan pokok tassawuf? 

Saya teringat kata-kata guru saya, KH. Thoifur Mawardi, bahwa setiap orang akan memusuhi apa yang tidak ia ketahui. Oleh karena itu setelah membaca artikel itu saya mulai mengumpulkan beberapa kitab sufi seperti kitab “Ihya’ Ulumiddin” karya Hujatul Islam Imam Ghozali, Kitab “Muroqil ‘Ubudiyah” karya Syekh Nawai Al-Bantani yang merupakan penjelasan kitab “Bidayatul Hidayah” karya Imam Ghozali.

Saya juga merujuk ke kitab “Iqozhul Himam” karya Sayyid Ahmad Bin Muhammad Bin Ajibah Al-Hasani yang merupakan penjelasan kitab tasawuf Al-Hikam. Di samping itu saya juga merujuk ke kitab “Qul Hadzihi Sabily” karya DR. Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani. Beliau adalah salah satu gurunya guru saya. Ini menjadi alsan mengapa artikel ini dan yang sebelumnya, saya beri judul Qul Hadzihi Sabily. Di pesantren ini disebut sebagai tafa’ulan.

Setelah saya membaca kitab-kitab tasawuf di atas ternyata pokok ajaran tasawuf tidak seperti yang di tuduhkan oleh wahabi. Dalam hayalan wahabi, pokok ajaran sufi ada 8 point, yaitu Thoriqot, Syekh pemberi wirid, Baiat, Wirid, Kholwah, Kasyaf, Fana’ dan Zhohir dan Batin atau Syariat dan Hakikat. Kita akan membahas delapan point tersebut secara terperinci pada artikel yang lain. dalam artikel ini kita hanya akan membahas, benarkah 8 point itu merupakan pokok ajaran tasawuf?

Delapan point itu ternyata bukanlah pokok ajaran sufi sebagaimana hayalan wahabi. Delapan point itu hanya istilah dalam tasawuf. Adapun pokok ajaran shufi adalah memperbaiki adab zhohir dan adab batin. Hal ini dapat kita ketahui dengan melihat bab-bab yang dibahas dalam kitab sufi. Sebut saja kitab Bidayatul Hidayah karya hujatul islam Imam Ghozali. Kitab ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama membahas adab zhohir sedangkan bagian kedua membahas adab bathin.

Bagian pertama terdiri dari 15 fasal, yaitu taat, adab bangun tidur, adab memasuki WC, adab wudhu, adab mandi, adab tayyamum, adab pergi ke masjid, adab memasuki masjid, adab setelah matahari terbit sampai tergelincir, adab persiapan untuk sholat, adab tidur, adab sholat, adab menjadi Imam atau makmum, adab pada hari jum’at dan adab puasa.

Bagian kedua terdiri dari 8 fasal yaitu menjaga diri dari maksiat mata, telinga, lisan, perut, alat kelamin, tangan, kaki, juga menjaga diri dari maksiat hati seperti ujub (bangga diri), dan sombong. Kemudian kitab itu diahiri dengan pembahasan adab berteman, adab bersama Alloh dan mahluk, adab anak terhadap orang tua.

Dalam kitab tasawuf lain yang berjudul “Iqozhul Himam” dibahas beberapa masalah pokok tasawuf seperti Ikhlas, tawakal, syukur, zuhud, wira’I dan lain-lain. Begitu pentingnya masalah ini dalam dunia tasawuf sehingga Imam Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin membuat 2 bab husus tentang hal yang dapat merusak amal (Muhlikat) dan hal yang menyelamatkannya (Munjiyat).

Untuk mempermudah kita dalam memahaminya, DR. Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani meringkas isi Ihya’ dalam sebuah karya berjudul “Qul Hadzihi Sabily.” Kitab setebal 125 halam ini membahas masalah aqidah, 6 rukun iman, 5 rukun islam kemudian diahiri dengan membahas masalah muhlikat dan munjiyat.

Masalah muhlikat terbagi menjadi 8 bab yaitu, ragu dalam agama, sombong, riya’, hasud, Su’u zhon, cinta dunia, cinta pangkat dan harta dan terahir terbujuk. Semua itu merupakan hal-hal yang merusak amal yang harus di jauhi oleh sufi.

Masalah munjiyat terbagi menjadi 15 bab yaitu taubat, syarat taubat, memperbanyak istighfar, roja’ dan khouf kepada Alloh, sabar, syukur, zuhud, tawakal, cinta karena Alloh, ridho, ikhlas, muroqobah, istiqomah, dan mengingat mati. Semua itu adalah hal-hal yang dapat menyelamatkan yang harus dilakukan oleh sufi yang secara keseluruhan adalah berdasarkan pada Al-Quran dan Hadits.

Maka dari itu dalam kitab Iqozhul Himam, Sayyid Ahmad bin Muhammad Al-Hasani menyatakan bahwa tasawuf bersandar pada Al-Quran dan Hadits. Kata beliau:
وأما استمداده فهو مستمد الكتاب والسنة
Adapun sandaran tasawuf adalah disandarkan pada alkitab (Al_Qur’an) dan Assunah (Al-Hadits). (Iqozhul Himam. Hlm. 8)

Pernyataan itu diperkuat oleh ucapan Syekh Ahmad Ruslan dalam kitab Zubad. Di akhir kitab tersebut beliau membahas masalah tasawuf. Dalam bait ke 1041 beliau berkata:
وزن بحكم الشرع كل خاطر * فأن يكن مأموره فبادر
Setiap hal yang diucapkan oleh hati, maka pertimbangkanlah dengan hukum syari’at. Jika merupakan perintah syari’at maka segeralah melakukannya.

Jadi jelas bahwa amaliyah tasawuf adalah berdasarkan al-quran dan hadits. Pokok ajarannya adalah membersihkan amal zhohir menggunakan adab dan membersihkan amal bathin dengan ikhlas. Maka tidaklah salah jika Imam Syafi’I menyuruh kita agar menjadi ahli fiqih yang sufi. Kata beliau:
فقيها و صوفيا فكن وليس واحدا * فإنى وحق الله إيك أنصح
فذلك قاس لم يذق قلبه تقى * وهذا جهول كيف ذو الجهل يصلح؟
Jadilah engkau sebagai faqih (Ahli fiqih) dan sufi tidak menjadi satu* sesungguhnya hak Alloh dan aku memberi nasehat padamu. Maka fiqih tanpa sufi adalah orang yang keras dan hatinya tidak merasakan ketakwaan sementara sufi tanpa fiqih adalah kebodohan. Bagaimana orang bodoh dapat diperbaiki?( Diwan Syafi’I . hlm 44)

Demikian juga Imam Malik. Beliau menyuruh kita agar menyatukan antara fiqih dan tassawuf. Kata beliau:
 من تصوف ولم يتفقه فقد تزندق ومن تفقه ولم يتصوف فقد تفسق ومن جمع بينهما فقد تحقق
Barang siapa belajar tasawuf tanpa belajar fiqih berarti ia zindiq. Barang siapa belajar fiqih tanpa tasawuf berarti ia munafiq. Dan barang siapa mengumpulkan tasawuf dan fiqih berarti ia adalah orang yang benar. (Iqozhul Himam. Hlm 6).

Dengan demikian jelaslah bahwa dalam mengklaim tassawuf wahabi hanya menebak-nebak. Mereka berhayal kemudian menebak tentang pokok ajaran tasawuf kemudian menisbatkan hasil tebakan itu kepada tasawuf uttuk disalahkan. Dengan kata lain wahabi menyalahkan hasil tebakan mereka sendiri yang salah. Wallohu a’lam.


Qul Hadzihi Sabily (Seputar Tasawuf)


Pada artikel berjudul Mafahim Yang Harus Di Luruskan kita telah membongkar kebohongan wahabi atas madzhab Asy’ari. Kesimpulannya wahabi membuat statemen yang dibangun atas hayalan dan tebak-tebakan kemudian mereka mengklaim bahwa madzhab asy’ari adalah aliran bid’ah dan sesat. Oleh karena klaim tersebut tidak terbukti kebenarannya berarti mereka telah melakukan kebohongan public. Dengan kata lain wahabi telah menfitnah madzhab Asy’ari yang dianut oleh mayoritas umat islam di dunia hususnya di Indonesia. Baca selengkapnya di http://goleksurgo.blogspot.com/2013/03/mafahim-yang-harus-di-luruskan_6034.html 

Jika wahabi benar-benar mencari kebenaran, seharusnya mereka meminta maaf kepada para pengikut asy’ari yang selama ini mereka sebut sebagai aliran bid’ah dan sesat. Namun ironisnya bukannya minta maaf, wahabi malah mencari celah untuk menyudutkan para pengikut asy’ari dengan mengalihkan persoalan pada masalah tasawuf. Jangankan minta maaf, mengakui kesalahannya saja wahabi tidak mau. Padahal telah tampak jelas kebenaran di depan mata mereka bahwa asy’ari bukan madzhab bid’ah apalagi sesat. Sebab asy’ari telah mengikuti Al-Qur’an dan Hadits.

Usaha wahabi menyudutkan para pengikut asy’ari dengan mengalihkan persoalan pada masalah tasawuf, sebenarnya menunjukan bahwa wahabi tidak tahu apa-apa soal madzhab asy’ari dan tasawuf. Mereka mengira bahwa keduanya sama. Padahal keduanya merupakan dua bidang yang berbeda.

Dalam mengomentari ahli tasawuf, wahabi menyebut mereka tak jauh beda dengan menyebut madzhab asy’ari, yaitu aliran bid’ah dan sesat. Untuk mensukseskan klaim ini, wahabi melakukan berbagai cara termasuk memelintir ucapan Imam Syafi’I. Mereka berbohong atas nama Imam Syafi’I dan menuduh bahwa Imam Syafi’I menilai ahli tasawuf sebagai orang bodoh. Berikut ucapan Imam Syafi’I yang diplintir maknanya oleh wahabi:
فقيها و صوفيا فكن وليس واحدا * فإنى وحق الله إيك أنصح
فذلك قاس لم يذق قلبه تقى * وهذا جهول كيف ذو الجهل يصلح؟

Jadilah engkau sebagai faqih (Ahli fiqih) dan sufi tidak menjadi satu* sesungguhnya hak Alloh dan aku memberi nasehat padamu. Maka fiqih tanpa sufi adalah orang yang keras dan hatinya tidak merasakan ketakwaan sementara sufi tanpa fiqih adalah kebodohan. Bagaimana orang bodoh dapat diperbaiki?( Diwan Syafi’I . hlm 44)

Dengan berdasarkan bait diatas wahabi menfitnah Imam Syafi’I menyebut ahli tasawuf sebagai orang bodoh. Padahal bait dari diwan Syafi’I jelas menasehati kita agar menjadi ahli fiqih dan tasawuf. Hal ini dapat dilihat pada kalimat فقيها و صوفيا فكن. Lafazh Faqihan merupakan khobar kana yang didahulukan. Lafazh shufiyan di athofkan pada lafzh faqihan menggunakan wawu yang faidahnya adalah li ithlaqil jam’i. Jadi kedua lafazh itu (faqih dan sufi) adalah merupakan khobar kana.

Dapat dipahami bahwa Imam Syafi’I menyuruh kita untuk menjadi ahli fiqih yang tasawuf. Sebab ahli fiqih tanpa tasawuf hatinya akan keras dan hatinya tidak akan merasakan ketakwaan. Hal ini dapat kita lihat pada kalimat فذلك قاس لم يذق قلبه تقى. Sementara tasawuf tanpa fiqih adalah kebodohan. Hal ini dapat kita lihat pada kalimat وهذا جهول كيف ذو الجهل يصلح.

Menurut Imam Malik tasawuf tanpa fiqih adalah zindiq sedangkan fiqih tanpa tasawuf adalah munafiq. dan yang benar adalah orang yang mengumpulkan antara fiqih dan tasawuf. Kata Imam Malik:
من تصوف ولم يتفقه فقد تزندق ومن تفقه ولم يتصوف فقد تفسق ومن جمع بينهما فقد تحقق
Barang siapa belajar tasawuf tanpa belajar fiqih berarti ia zindiq. Barang siapa belajar fiqih tanpa tasawuf berarti ia munafiq. Dan barang siapa mengumpulkan tasawuf dan fiqih berarti ia adalah orang yang benar. (Iqozhul Himam. Hlm 6).

Abu Qosim Al-Junaidi berkata: “Sufi adalah masuk ke dalam setiap ahlak yang indah dan keluar dari setiap ahlak yang rendah.” (Iqozhul Himam. Hlm 4)

Saya kira tiga ucapan tiga ulama salaf di atas telah lebih dari cukup untuk membela ahli sufi yang terus di fitnah oleh wahabi. Sekaligus membuktikan bahwa wahabi memang pembohong dan ahli fitnah. Wallohu a’lam.

Identitas Penulis:
Nama: Qosim Ibn Aly
TTL : Pringsewu, 3-9-1986
Alamat Dulu: Jatirenggo, Pringsewu, Lampung.
Alamat Sekarang: Ma’had Darut Tauhid, Kedungsari, Purworejo, Jawatengah Po. BOX 211.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates