Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Sunday, April 21, 2013

Dialog Aswaja VS Wahabi (Makna Istawa)


Suatu hari seorang wahabi menuduh madzhab asy’ari menafikan sifat Alloh. Setelah saya cek ternyata tuduhan itu tidak benar. Akan tetapi wahabi masih bersihkeras melontarkan tuduhannya itu. Maka tidak ada jalan lain kecuali mengajak mereka berdialog. Pertama-tama saya ajak mereka dialog secara langsung face to face. Akan tetapi mereka menolak dengan alasan takut di hajar.

Saya terima alasan itu. Maka selanjutnya saya ajak mereka untuk berdialog lewat telpon. Namun mereka menolaknya. Dengan alasan bahwa ini tidak mungkin. Sebenarnya saya heran, mengapa berdialog lewat telpon tidak mungkin? Bukankah ini meruapakan cara yang sangat gampang? Wahabi tinggal ngasih nomor HP nya kemudian saya hubungi. Kan beres. Alasan mereka tidak mau memberikan nomor HP adalah karena mereka takut di terror. Maka saya pastikan kepada mereka bahwa nomor HP nya akan saya rahasiakan. Namun mereka tidak percaya.

Setelah ajakan dialog secara langsung dan via telpon ditolak, maka selanjutnya saya mengadakan dialog di face book. Di FB saya jelaskan bahwa madzhab Asy’ari tidak menolak sifat-sifat Alloh. Akan tetapi wahabi masih tidak percaya.  

Mereka masih menuduh bahwa madzhab Asy’ari menolak sifat-sifat Alloh. Bukti yang mereka ajukan adalah bahwasanya Madzhab Asy’ari menolak sifat istawa Alloh. Padahal madzhab Asy’ari tidak pernah menolak sifat istawa Alloh. Hanya saja, mereka tidak mau menggunakan makna literal untuk memaknai istawa. Melainkan mereka menggunakan ta’wil. Berikut ini adalah dialog antara saya dan wahabi.

Dani Iskadar: qosim@ salah satu bukti aqidah aswaja menolak sifat2 ALLAH mereka mengatakan ALLAH ADA TANPA TEMPAT atau dengan kata lain ALLAH TIDAK DI MANA-MANA. padahal begitu jelas ALLAH berfirman ARROHMAAN 'ALAL 'ARSY ISTAWA.

Qosim Ibn Aly All: alhamdulillah ada satu wahabi yang muncul. Dani Iskadar Adapun ayat yg nt sebutkan, aswaja tidak menolaknya. Silahkan anda sebutkan nama ulama aswaja yg menolak sifat itu. Jangan lupa refrensinya 

Dani Iskadar; qosim@ al afw ana tidak tau, tapi yang ana katakan betul tidak bahwa aswaja meyakini. ALLAH ADATANPA TEMPAT atau dengan kata lain ALLAH TIDAK DI MANA-MANA. Bukankah ini suatu penolakan.

Qosim Ibn Aly; iya. Alloh ada tanpa tempat. sebab sebelum Alloh menciptakan tempat, Alloh sudah ada. ini menunjukan bahwa Alloh ada tanpa tempat. Namun bukan berarti Alloh tidak ada dimana2. Ada yang salah? Salahnya dimana?

Dani Iskadar; salahnya menyelisihi ucapan ALLAH dan Rosul-Nya.

Qosim Ibn Aly Dani Iskadar: ucapan mana yg diselisihi? bukankah kami tidak menolak sifat istawa? bukankah aswaja hanya berpendapat bahwa istawanya Alloh itu bukan duduk kayak orang nongkrong. Kalo emng itu menyalahi Alloh dan Rosulnya, silahkan anda tunjukan kapan Alloh dan Rosulnya pernah bilang bahwa istawa artinya duduk di atas Arsy. Monggo mas Dhani... 

Dani Iskadar; ana tanya mendengar, ilmu, hidup, melihat, semua itu sifat makhluq bukan ? Apakah mensifati dengan sifat itu kafir ? Atau ente semua tidak mensiFati ALLAH dengan sifat2 itu ?

Qosim Ibn Aly; semua itu sifat Alloh. Hanya saja ilmunya Alloh dan sifat2 Nya yg lain tidak seperti mahluk.  Nah duduk kan menyerupakan Alloh dengan mahluk. Masak Alloh duduk/ nongkrong di arsy? Berarti Alloh butuh tempat dong... (tempat duduk- red  )

Dani Iskadar; qosim@ mendengar adalah sifat ALLAH juga sifat pada makhluq kenapa ente mensifatkan itu pada ALLAH ? Apakah ini berarti tasybih bil makhluq ?

Qosim Ibn Aly; sebab Al-Quran bilang begitu. Namun Al quran juga bilang bahwa Alloh Laisa Kamitslihi Syai. Tidak ada yg serupa dengan Alloh. Maka Mafhumnya, Sifat Ilmu Alloh dan sifat2 yg lain tidak sama dengan mahluknya.
Pertanyaan saya:
Jika Istawa di maknai duduk, berarti Alloh butuh tempat duduk. Sekarang tolong tunjukan kepada saya dalil bahwa Alloh butuh tempat duduk... monggo mas dani 

Dani Iskadar; siapa yang mengartikan istiwa dengan duduk. Dan siapa yang mengatakan ALLAH butuh tempat duduk. Istiwa istiqror, ALLAH berada di atas 'arsy-Nya dan hanya ALLAH. yang mengetahui kaifiyah-Nya.

Qosim Ibn Aly Mas Dani Iskadar: Kata anda Istiwa adalah istiqror. Tanggapan saya: Istiqror itu bahasa arab. Artinya menetap. Kalo istawa anda maknai sebagai istiqror berarti Alloh butuh tempat istiqror. Pertanyaan saya masih sama dengan yg di atas, tolong tunjukan kepada saya dalil bahwa Alloh butuh tempat untuk istiqror.. monggo mas dani.

Berikut ini bukti screen shotnya:
Jika kurang jelas, silahkan klik gambar. 
Qosim Ibn Aly 

Intinya alasan wahabi menuduh madzhab asy’ari menolak sifat Alloh adalah karena madzhab asy’ari menolak sifat istawa. Padahal tidak demikian. Madzhab asy’ari sama sekali tidak menolak sifat Alloh. Sampai disini dapat kita fahami bahwa wahabi dan asy’ari sama-sama menerima sifat istawa Alloh. Perbedaannya adalah dalam hal memahami istawa itu. Menurut wahabi istawa bermakna istiqror. Kunjungi link berikut https://www.facebook.com/qosimibn.aly/posts/455681901173041?notif_t=like 

Mari kita kaji masalah ini. Thoha: 5
الرحمن علي العرش استوى
Menurut wahabi استوى bermakna استقر . Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maka artinya adalah menetap. Dengan demikian dapat dipahami bahwa menurut wahabi Alloh menetap di atas Arsy.
Tetapi kepahaman seperti itu bertentangan dengan surat Al-Baqoroh: 115,
ولله المشرق والمغرب فأينما تولوا فثم وجه الله
Artinya: “Kepunyaan Alloh lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Alloh.”

Ayat ini memberi kepahaman bahwa Alloh ada dimana-mana. Dengan demikian Alloh tidak menetap di suatu tempat. Jika kata istawa dalam surat Thoha: 5 diartikan secara bahasa yaitu istiqror (menetap) maka bertentangan dengan al-baqoroh: 155 yang menunjukan bahwa Alloh ada dimana-mana, atau dengan kata lain Alloh tidak menetap pada suatu tempat. Oleh karena dalam Al-Qur’an mustahil terjadi pertentangan, maka tidak ada jalan keluar kecuali memahmi Thoha: 5 dengan tidak melihat makna literalnya. Dalam madzhab Asy’ari, ini disebut ta’wil.

Menurut madzhab Asy’ari, istawa bermakna istaula, menguasai. Imamal-Lughawiy Abu al Qasim al-Husain ibn Muhammad yang lebih dikenal dengan sebutan ar-Raghib al-Ashbahani (w 502 H), berkata: "Kata Istawâ, jikadijadikan Fi'il Muta'addî (kata kerja yang membutuhkan objek) dengan ditambahkan "'Alâ" maka maknanya tertentu hanya dalam pengertian manguasai, seperti dalam firman Allah: "ar-Rahmân 'Alâ al-'ArsyIstawâ" (QS. Thaha: 5)". (al-Mufradât FîGharîb al-Qur'ân, h. 251).

Selainar-Raghib al-Ashbahani masih panjang daftar nama pakar bahasa lainnya yang telah mengungkapkan pemaknaan Istawâ dengan Istawlâ, di antaranya; al-Lughawiy Ahmad ibn Muhammad ibn Ali al-Fayyumi (w 770 H) dalam kitab kamus al-Mishbâh al-Munîr, al-Lughawiy Abu Ishaq az-Zajjaj (w 311 H) dalam Ma'ânî al-Qur'ân, al-Lughawiy Abu al-Qasimaz-Zajjaji (w 340 H) dalam kitab Isytiqâq Asmâ' Allâh, al-Lughawiy Ibn Manzhur (w 711 H) dalam Lisân al-'Arab, Imam al-Lughawiy al-Hâfizh Muhammad Murtadla az-Zabidi (1205 H) dalam Ithâf as-Sâdahal-Muttaqîn dan lainnya.

Dapat dipahami bahwa menurut wahabi, Alloh istawa (menetap) di atas Arsy. Sedangkan menurut Madzhab Asy’ari, Alloh istawa (menguasai) atas Arsy. Jadi dalam pandangan wahabi Alloh memiliki tempat. Sedangkan menurut madzhab Asy’ari, Alloh tidak memiliki tempat. Mari kita lihat pendapat ulama salaf dari golongan sahabat Nabi hingga tabit tabiin.

1.      Imam Aly KW.
Beliau adalah salah satu sahabat Nabi SAW. Kata beliau Alloh ada tanpa tempat.
كان الله ولا مكان وهو الأن علي ما عليه كان
(Al-Farqu Bainalfiroq, hlm 333)

2.      Imam Zainal Abidin, Ali Bin Husain
Beliau adalah seorang tabi’in. Kata beliau Alloh tidak berada di suatu tempat.
أنت الله الذي لا يحويك مكان
(Ittihafussadah AL-Muttaqin, juz 4 hlm 380)

3.      Imam Ja’far Shodiq
Menurut beliau orang yang mengatakan Alloh berada di atas sesuatu maka dia kafir.
من زعم أن الله في شيء أو من شيء أو علي شيء فقد كفر
(Risalah Qusyairiyah, hlm 6)

Dalam kitab Kafa Taqriban Lil Umah Bismissalaf dinukilkan pendapat imam 4 madzhab bahwa menurut mereka, Alloh ada tanpa tempat. Di sini saya hanya akan menukilkan ucapan Imam Syafi’i. Kata beliau:
إنه تعالى كان ولا مكان
(Kafa Taqriban Lil Umah Bismis Salaf, hlm 61-65)

Sebenarnya masih banyak pendapat ulama-ulama salaf yang menyatakan bahwa Alloh tidak memiliki tempat. Namun cukuplah pendapat-pendapat di atas sebagai bukti bahwa pendapat madzhab Asy’ari telah sesuai dengan pendapat ulama salaf bahwasanya ALLOH TIDAK MEMILIKI TEMPAT. 

Perhatikan ucapan Dani Iskadar; "siapa yang mengartikan istiwa dengan duduk. Dan siapa yang mengatakan ALLAH butuh tempat duduk. Istiwa istiqror, ALLAH berada di atas 'arsy-Nya dan hanya ALLAH. yang mengetahui kaifiyah-Nya.

Ucapan ini menunjukan bahwa wahabi memaknai istawa dengan istiqror (Menetap). Pertanyaannya: Siapa ulama salaf yang berpendapat bahwa istawa bermakna istiqror? Jawab Wahai Wahabiyun !!!

9 comments:

Imam Ahmad said...

jangan pada tengkar aja tho.....

Admin said...

ya barang kali setelah ada dialog gak bertengkar lagi. cos segalanya telah jelas.

ahmad sonhaji said...

Ini bukan bertengkar MAS....tapi ber dialoq MAS

Deva_Ajib_A said...

aku suka ,, dengan berdialog akan memperjelas mana sebenarnya yang benar. heee.........

Abu Muttaqin As Salafi said...

Apakah Allah dan RasulNya mengatakan Allah ada tanap tempat atau Allah tidak dimana mana ? Lupa ya bhw Allah Maha Ghoib !! kok berani beraninya berkata spt itu ttg Allah ? Ttg hakekat sebenarnya dari ayat2 mutasyabbih hanay Allah Yang Maha Mengetahui jangan Sok tau pula , mentakwil ( merobah arti asal ) pula, Sok tau kali yee..

Qosim Ibnu Aly said...

Apakah Allah dan RasulNya mengatakan Allah ada tanap tempat atau Allah tidak dimana mana ?
===================
saya tidak mengatakan bahwa Alloh ada tanpa tempat itu di ambil dari alquran dan hadits. Pernyataan itu di ambil dari ucapan Sayyidina Ali,

Qosim Ibnu Aly said...

sebenarnya dari ayat2 mutasyabbih hanay Allah Yang Maha Mengetahui jangan Sok tau pula , mentakwil ( merobah arti asal ) pula, Sok tau kali yee..
===============
Saya sudah mnjelaskan hal itu namun wahabinya tetep ngeyel dan menyatakan bhw makna istiwa adalah istiqror. jd saran saya, wahabi jangan sok tau yeeee :D

Imran Abdul Harith Al-Kalawai Al-Qadahi As-Syafi'e Al-Asy'ari said...

Alhamdulillah.Saya kagum dengan kamu Qosim Ibnu Aly.Perjuangkan Akidah Islam! Khalaf yang sama seperti Salaf.Wahabi hanya bertopengkan salaf.Teruskan perjuangan.
Semoga ALLAH BERSAMA KITA.

yusuf said...

Tidak Ilmiyah, katanya aswaja, tapi pendapat ulama yang dipakai oleh antum malah ulama syi'ah

Post a Comment

Silahkan bertanya di kolom komentar di bawah ini

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates